Sabtu, 23 November 2013

KETIKA MALAIKAT BICARA HAJI


Berdasarkan analisis dari artikel yang saya baca, Haji yang mabrur adalah haji yang ketika orang tersebut berangkat dengan tidak melupakan orang-orang disekelilingnya. Dalam arti orang-orang disekitarnya dalam keadaan layak dan tidak kekurang (miskin, kelaparan, dll). Ya, memang benar adanya bahwa pergi haji adalah rukun Islam ke-5, yang mana hal tersebut adalah ibadah wajib bagi orang yang mampu. Namun, coba lihat kembali ketika masih sangat banyak orang-orang yang kelaparan bahkan lebih khususnya orang-orang tersebut dekat tinggalnya dengan rumah kita. Apakah hal ini pantas? Apakah kita tega untuk pergi haji ketika mereka sedang kelaparan? Bahkan yang lebih ironis lagi adalah ketika para koruptor yang sengaja mencuci uang mereka dengan pergi ke Mekkah untuk pergi haji. Mau bagaimana pun, uang yang dimiliki oleh koruptor adalah uang yang tidak halal atau uang haram yang dimilikinya. Karena uang tesebut merupakan hasil dari perbuatan mencuri baik secara sembunyi, maupun terang-terangan.
Lalu, melihat dari kisah terdahulu tentang Nabi Ibrahim yang merelakan anaknya disembelih atas perintah Allah SWT sangat jauh berbeda dari kondisi sekarang. Mengapa? Beliau merupakan sosok yang sepenuhnya ikhlas mengabdikan kepada Tuhan, terutama ketika anaknya (Ismail) diminta sembelih. Dan beliau benar-benar mnyerahkan sepenuhnya. Karena beliau sangat mengimani bahwa “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup, dan matiku kepunyaan Allah Rab al-Alamin..”. Bagaimana dengan kita? Ketika kita melihat saudara atau tentangga kita yang masih banyak kesusahan dan kelaparan namun untuk memberikan sedikit harta yang kita miliki saja perlu berfikir berulang kali, atau bahkan kita enggan memberikan sedikit harta kita kepada mereka. Kita lebih memilih untuk mementingkan diri sendiri atau pergi haji namun dengan keadaan yang timpang tindih, yaitu tetangga kita sedang dalam kesusahan. Memang jika kita bicara
Walhasil, kita jadi bertanya, apakah koruptor masih bisa merasa tenang ketika masyarakat disekeliling mereka , yang miskin dan terpinggirkan, akan menuntut hak mereka kepada Tuhan-nyaorang lemah (Rabb al-Mustadz’affin)? Islam menegaskan, doa kaum mustadz’affin atau tertindas sangat mustajab, apalagi jika para malaikat mengamini doa mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar